TAPANULI SELATAN – Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Tapanuli Bagian Selatan Bersatu (AMP TABGSEL) kembali menggedor Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Selatan dalam aksi unjuk rasa jilid kedua. Aksi ini merupakan tindak lanjut atas ingkarnya pihak Dinas Pendidikan (Disdik) terhadap perjanjian pada aksi jilid pertama, yang mana saat itu mereka berjanji akan menanggapi dan mengusut tuntas permasalahan pungutan liar (pungli) di sekolah-sekolah di bawah naungan Disdik Tapsel.

Namun, alih-alih mendapatkan jawaban konkret, massa aksi justru kembali dihadapkan pada sikap lempar tanggung jawab dan perwakilan yang dinilai sama sekali tidak kompeten.

Sepanjang jalannya aksi jilid kedua ini, Kepala Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan kembali mangkir dan tidak berani menemui massa secara langsung. Kekecewaan massa semakin memuncak karena utusan yang dikirim untuk menanggapi aspirasi tidak memiliki kapasitas ataupun wewenang dalam mengambil keputusan.

"Kami hanya disuguhkan jawaban klasik dan retorika kosong, 'Saya akan sampaikan terhadap pimpinan.' Ini adalah bukti nyata bahwa Dinas Pendidikan Tapsel tidak berkompeten dan terkesan melindungi praktik pungli yang merugikan dunia pendidikan," tegas Arjuliadi Harahap dalam orasinya di depan kantor dinas pendidikan tapanuli selatan.

Sementara itu, ilham selaku orator utama lainnya, menyatakan bahwa ketidakhadiran kepala dinas menunjukkan sikap antipati terhadap kontrol sosial yang dilakukan oleh mahasiswa dan pemuda.

"Kami datang membawa tuntutan serius, tapi dinas menganggap ini angin lalu dengan mengirim orang yang tidak tahu apa-apa. Kami tidak butuh perantara yang hanya bisa melempar janji!" ujar Ilham.

Akibat kekesalan hati yang mendalam atas bungkamnya otoritas pendidikan tersebut, situasi di lapangan sempat memanas. Massa aksi meluapkan kemarahan mereka dengan membakar ban bekas di depan pintu masuk Kantor Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan. Kepulan asap hitam menjadi simbol matinya keterbukaan informasi dan integritas di tubuh Disdik Tapsel.

Meskipun tensi meninggi, pergerakan massa tetap terkendali dan solid di bawah pengawalan ketat Irfan Syaleh Siregar selaku pemantau dan monitoring massa di lapangan.

Sebelum membubarkan diri secara tertib, AMP TABGSEL mengambil langkah taktis dengan membuat video pernyataan sikap resmi langsung dari lokasi unjuk rasa. Dalam video tersebut, mereka dengan tegas menyatakan Mosi Tidak Percaya terhadap Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan.

Tidak main-main, AMP TABGSEL juga memberikan ultimatum keras sebagai langkah penutup. Jika dalam waktu dekat Kepala Dinas Pendidikan Tapsel tetap tidak memberikan tanggapan langsung dan konkret, AMP TABGSEL menegaskan akan langsung mengalihkan komando gerakan ke ibu kota provinsi.

Mereka berjanji akan menggelar aksi unjuk rasa yang lebih besar di depan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), sekaligus secara resmi melaporkan dugaan praktik pungli di lingkungan Disdik Tapsel dengan menyerahkan bukti-bukti kuat berupa rekaman video dugaan pungli yang telah mereka kantongi.